kelas kata dalam bahasa Indonesia


pembagian kelas kata dalam bahasa Indonesia menurut Harimurti Kridalaksana ada 9, yaitu:
      jenis                                           penjabaran
  1. verba                 => subkategorisasi, perpindahan kategori
  2. ajektiva             => subkategorisasi, pemakaian ajektiva
  3. nomina              => subkategorisasi, pemakaian nomina, nominalisasi
  4. pronomina         => subkategorisasi, pemakaian pronomina
  5. numerelia          => subkategorisasi
  6. adverbia            => subkategorisasi, pemakaian adverbia
  7. interogativa       => jenis dan pemakaiannya
  8. demonstrativa   => subkategorisasi
  9. artikula
berikut adalah penjabaran dari jenis-jenis kelas kata dalam bahasa Indonesia oleh Harimurti kridalaksana yang dikutip dari:
A. VERBA
Kata dikatakan berkategori verba jika dalam frasa dapat didampingi partikel tidak dalam konstruksi dan tidak dapat didampingi partikel di, ke, dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak. Berdasarkan bentuknya verba dibedakan menjadi:
1.    Verba Dasar Bebas
Adalah verba yang berupa morfem dasar bebas.
Contoh: nonton, makan, mandi, minum, pergi, pulang, lari, loncat.
2.    Verba Turunan
Adalah verba yang telah mengalami afiksasi, reduplikasi, gabungan proses atau berupa paduan leksem. Bentuk turunannya, yaitu:
a.    Verba Berafiks
Contoh: berdandan, terbayang, kerinduan, kecelakaan, memasak, bekerja, menjalani.
b.    Verba Bereduplikasi
Contoh: lari-lari, ingat-ingat, maju-maju, semangat-semangat, malas-malas.
c.    Verba Berproses Gabungan
Contoh: bercanda-canda, tersenyum-senyum, terbayang-bayang, berandai-andai.
d.   Verba Majemuk
Contoh: buah tangan, cuci mata, unjuk gigi, adu domba, campur tangan, main hakim.
Subkategorisasi verba dapat dibagi sebagai berikut.
1.    Berdasarkan Banyaknya Nomina yang Mendampingi
a.    Verba Intransitif
Adalah verba yang menghindarkan objek. Klausa yang memakai verba ini hanya mempunyai satu nomina. Dalam verba ini terdapat verba yang berpadu dengan nomina, misalnya alih bahasa, campur tangan, cuci mata, bersepeda, bersepatu. Ada juga verba yang tidak bisa bergabung dengan perfiks me-, ber- tanpa mengubah makna dasarnya, disebut kata kerja aus.
Contoh: ada, balik (= kembali), bangun, benci akan, cinta akan, diam (= tidak bergerak).
b.    Verba Transitif
Adalah verba yang harus mendampingi obyek. Berdasarkan banyaknya obyek, terdapat beberapa verba:
§  Verba monotransitif, yaitu verba yang mempunyai satu obyek.
Contoh: saya (S) membeli buku (O).
§  Verba bitransitif, yaitu verba yang mempunyai dua obyek.
Contoh: ibu (S) membawa adik (O tak langsung) kue (O langsung).
§  Verba ditransitif, yaitu verba yang obyeknya tidak muncul.
Contoh: Adik sedang makan.
2.    Berdasarkan Hubungan Verba dengan Nomina
a.    Verba aktif, yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai pelaku, biasanya berprefiks me-, ber-, atau tanpa prefiks.
Contoh: Aku menunggu hingga akhir waktu.
Jika ditandai dengan sufiks –kan, akan bermakna benefaktif atau kausatif.
Contohnya: Ibu memasakkan ayah rendang.
Jika ditandai dengan sufiks –i , akan bermakna lokatif atau repetitif.
Contoh: Inez mengambili kerikil di halaman.
b.      Verba pasif, yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai penderita, sasaran, atau hasil. Biasanya diawali dengan prefiks di- atau ter-. Apabila ditandai dengan prefiks ter- maka bermakna perfektif.
Contoh:  Orang itu tertabrak mobilku.
Pada umumnya verba pasif dapat diubah menjadi verba aktif dengan cara mengganti afiksnya.
Contoh: Orang itu tertabrak mobilku —– Mobilku menabrak orang itu.
c.    Verba anti-aktif (ergatif), yaitu verba pasif yang tidak dapat diubah menjadi verba aktif dan subyeknya merupakan penanggap (menderita, merasakan).
Contoh: Jariku tertusuk jarum.
d.   Verba anti-pasif, yaitu verba yang tidak dapat diubah menjadi verba pasif.
Contoh: Ia mencium kening Rina untuk terakhir kalinya.
3.    Berdasarkan Interaksi antara Nomina Pendampingnya
a.    Verba resiprokal, yaitu verba yang menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak, dan perbuatan tersebut dilakukan dengan saling berbalasan. Beberapa bentuk verba resiprokal:
1)        ber+calon verba yang mempunyai sifat resiprokal, contoh: berperang
2)        ber+verba dasar+an, contoh: berpegangan
3)        ber+reduplikasi verba dasar+an, contoh: bersalam-salaman
4)        saling me+verba dasar+i, contoh: saling memukuli
5)        baku+verba dasar, contoh: baku tembak
6)        verba dasar1  + me+ verba dasar2, contoh: tolong menolong
7)        reduplikasi verba + an, contoh: cubit-cubitan
8)        saling ter- verba dasar, contoh: cubit-cubitan
9)        saling ke+verba dasar+an, contoh: saling kehilangan
10)    me+verba+ -i/-kan+satu sama lain, contoh: memaafkan satu sama lain.
b.   Verba non-resiprokal, yaitu verba yang tidak menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak dan tidak saling berbalasan.
4.    Berdasarkan Referensi Argumennya
a.    Verba refleksif, yaitu verba yang kedua argumennya mempunyai referen yang sama.
b.    Verba non refleksi, yaitu verba yang kedua argumennya mempunyai referen yang berlainan.
5.    Berdasarkan Hubungan Identifikasi antara Argumen-argumennya
a.    Verba kopulatif, yaitu verba yang mempunyai potensi untuk ditanggalkan tanpa mengubah konstruksi predikatif yang bersangkutan.
Contoh: merupakan, adalah.
b.    Verba ekuatif, yaitu verba yang mengungkapkan ciri salah satu argumennya.
Contoh: berjumlah, berlandaskan.
6.    Verba Telis dan Verba Atelis
a.     Verba telis menyatakan bahwa perbuatan tuntas atau bersasaran, sedangkan verba atelis menyatakan bahwa perbuatan belum tuntas.
Contoh:  Ayah mencangkul sawah—ayah bercangkul sawah.
b.    Verba performatif dan verba konstatatif, dibedakan menjadi:
1)   verba performatif, yaitu verba dalam kalimat yang secara langsung mengungkapkan pertuturan yang dibuat pembicara pada waktu mengujarkan kalimat.
Contoh: mengucapkan, menyebutkan
2)   verba konstatif, yaitu verba dalam kalimat yang menyatakan atau mengandung gambaran tentang suatu peristiwa.
Contoh:  menulis, menembaki.
Perpindahan Kategori
Selain bentuk dasar dan turunan verbal murni, terdapat pula verba yang berasal dari kategori lain, verba demikian ialah:
1)   verba denominal, yaitu verbayang berasal dari nomina,
contoh: memahat, membatu, berduri, berbudaya
2)   verba adjektival, yaitu verba yang berasal dari ajektiva,
contoh: menghina, meyakinkan
3)   verba deadverbial, yaitu verba yang berasal dari adverbial
contoh: menyudahi, bersungguh-sungguh.
B.  AJEKTIVA
Ajektiva adalah kategori yang ditandai oleh kemungkinannya untuk bergabung dengan partikel tidak, mendampingi nomina, atau didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak, mempunyai ciri-ciri morfologis seperti –er (dalam honorer), -if (dalam sensitif), dan –i (dalam alami), dan dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an seperti keyakinan. Dari bentuknya ajektiva dapat dibedakan menjadi:
1.    Ajektiva Dasar
a.    Dapat diuji dengan kata sangat, lebih, misalnya: adil, agung, bahagia, bersih, cemberut, canggung, dungu, disiplin, enggan, elok, fanatik, fatal, ganteng, galau, haus, halus, indah, iseng, jelita, jahat, kenyal, kabur, lambat, lancar, mahal, manis, nakal, netral, otentik, padat, paham, ramai, rapat, sadar, sabar, taat, takut, untung, ulet, dsb.
b.    Tidak dapat diuji dengan kata sangat, lebih, misalnya: buntu, cacat, gaib, ganda, genap, interlokal, kejur, lancing, langsung, laun, musnah, niskala, pelak, tentu, tunggal, dsb.
2.    Ajektiva Turunan
a.    Ajektiva turunan berafiks misalnya terhormat.
b.    Ajektiva bereduplikasi, misalnya ringan-ringan.
c.    Ajektiva berafiks R-an atau ke-an, misalnya kemalu-maluan.
d.   Ajektiva berafiks –i, misalnya alami, alamiah (alam).
e.    Ajektiva yang berasal dari pelbagai kelas dengan proses-proses sebagai berikut.
1)   Deverbalisasi, misal: mencekam, menjengkelkan, terpaksa, tersinggung, dll.
2)   Denominalisasi, misal: pelupa, pemalas, rahasia, perwira, ahli, malam, panjang, dll.
3)   De-adverbialisasi, misal: bertambah, melebih, mungkin, menyengat, berkurang, dll.
4)   Denumeralia, misal: menunggal, mendua, menyeluruh.
5)   De-interjeksi, misal: aduhai, asoi, sip, wah, yahud.
3.    Ajektiva Majemuk
a.    Subordinatif: kepala dingin, juling bahasa, buta huruf, keras kepala, tipis bibir, sempit hati, patah lidah, panjang akal, cepat lidah, besar mulut, busuk tangan, lupa daratan, dll.
b.    Koordinatif: lemah gemulai, riang gembira, suka duka, lemah lembut, tua muda, senasib seperjuangan, letih lesu, gagah perkasa, aman sentosa, besar kecil, baik buruk, dll.
Subkategorisasi ajektiva, dibagi ke dalam dua macam kategori ajektiva sebagai berikut.
a.    (1) ajektiva predikatif, yaitu ajektiva yang dapat menempati posisi predikat dalam klausa, misalnya susah, hangat, sulit, mahal
(2) ajektiva atributif, yaitu ajektiva yang mendampingi nomina dalam frase nominal, misalnya nasional, niskala
b. (1) ajektiva bertaraf, yakni yang dapat berdampingan dengan agak, sangat, dan sebagainya seperti pekat, makmur
(2) ajektiva tak bertaraf,  yakni yang tidak dapat berdampingan dengan agak, sangat, dan sebagainya, seperti nasional, intern.
Pemakaian Ajektiva
Ajektiva dapat mengambil bentuk perbandingan, dan perbandingan itu dapat dibagi atas empat tingkat.
1)   Tingkat positif, yaitu yang menerangkan bahwa nomina dalam keadaan biasa.
Contoh: Kamarku sempit.
2)   Tingkat komparatif yang menerangkan bahwa keadaan nomina melebihi keadaan nomina lain. Contoh: Kamarku lebih sempit dari pada kamar adikku.
3)   Tingkat superlatif, yang menerangkan bahwa keadaan nomina melebihi keadaan beberapa atau semua nomina lain yang dibandingkannya.
Contoh: Shinta murid yang paling cantik di kelas. Dapat pula dinyatakan dengan prefiks –ter, menjadi: Shinta murid tercantik di kelas.
4)   Tingkat eksesif, yang menerangkan bahwa keadaan nomina berlebih-lebihan.
Contoh: Pertunjukan pagi itu amat sangat ramai.
Selain itu, dapat pula menggunakan dengan kata alangkah, bukan main, dan maha.
C.  NOMINA
Nomina adalah kategori yang secara sintaksis tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak dan mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari. Nomina berbentuk:
1.    Nomina dasar, seperti radio, udara, kertas, barat, kemarin, dll.
2.    Nomina turunan, terbagi atas:
a.    Nomina berafiks, seperti keuangan, perpaduan, gerigi.
b.    Nomina reduplikasi, seperti gedung-gedung, tetamu, pepatah.
c.    Nomina hasil gabungan proses, seperti batu-batuan, kesinambungan.
d.   Nomina yang berasal dari pelbagai kelas karena proses:
1)   deverbalisasi, seperti pengangguran, pemandian, pengembangan, kebersamaan
2)   deajektivalisasi, seperti ketinggian, leluhur
3)   denumeralisasi, seperti kepelbagaian, kesatuan
4)   deadverbialisasi, seperti keterlaluan, kelebihan
5)   penggabungan, seperti jatuhnya, tridarma.
3.    Nomina paduan leksem, seperti daya juang, cetak lepas, loncat indah, tertib acara, jejak langkah.
4.    Nomina paduan leksem gabungan, seperti pendayagunaan, ketatabahasaan, pengambilalihan, kejaksaaan tinggi.
Subkategorisasi terhadap nomina dapat dilakukan dengan membedakan:
1.    Nomina Bernyawa dan Nomina Tak Bernyawa
Nomina bernyawa dapat disubtitusikan dengan ia atau mereka, sedangkan yang tak bernyawa tidak.
a.    Nomina Bernyawa dapat dibagi atas:
1)   Nomina persona (insan), memiliki ciri-ciri a) dapat disubtitusikan dengan ia, dia, atau mereka, b) dapat didahului partikel si. Yang tergolong dalam nomina persona ialah:
a)    Nama diri, seperti Meilan, Byan, Adit. Nama diri sebagai nama tidak dapat direduplikasikan. Bila direduplikasikan ia menjadi nomina kolektif.
b)   Nomina kekerabatan, seperti kakek, nenek, kakak, adik, bapak, ibu, anak.
c)    Nomina yang menyatakan orang atau yang diperlakukan seperti orang, seperti tuan, nyonya, nona, raksasa, hantu, malaikat.
d)   Nama kelompok manusia, seperti Jepang, Malaysia, Minang kabau.
e)    Nomina tak bernyawa yang dipersonifikasikan seperti MPR (nama lembaga.)
2)   Flora dan fauna mempunyai ciri sintaksis
a)    tidak dapat disubtitusikan dengan ia, dia, mereka,
b)   tidak dapat didahului partikel si, kecualii flora dan fauna seperti yang personifikasikan dengan si kancil, si kambing.
b.    Nomina Tak Bernyawa dapat dibagi:
1)      Nama lembaga, seperti DPR, MPR, DPRD, UUD.
2)      Konsep geografis, seperti Bali, Purbalingga, utara, selatan hilir, hulu.
3)      Waktu, seperti Senin, Rabu, Mei, besok, lusa, 1988.
4)      Nama bahasa, seperti bahasa Indonesia, bahasa Sunda, bahasa Banyumas.
5)      Ukuran dan takaran, seperti karung, guni, pikul, gram, ons, kilometer
6)      Tiruan bunyi, seperti aum, dengung, kokok.
2.    Nomina Terbilang dan Nomina Tak Terbilang
Nomina terbilang ialah nomina yang dapat dihitung dan dapat didampingi oleh numeralia, seperti buku, sepeda, kursi, meja. Nomian tak terbilang ialah nomina yang tidak dapat didampingi oleh numeralia seperti kebersihan, kesucian; termasuk pula nama diri dan nama geografis.
3.    Nomina Kolektif dan Bukan Kolektif
Nomina kolektif mempunyai ciri dapat disubtitusikan dengan mereka. Nomina kolektif terdiri atas nomina dasar seperti tentara, keluarga; dan nomina turunan seperti tepung-tepungan, minuman, wangi-wangian.
Contoh nomina kolektif:
asinan                    cairan                    hadirin                  lauk-pauk              buah-buahan
aubade   catatan       jamaah  masyarakat           duet
batalyon                                dasar                      kawanan               ratusan  tritunggal
Penggunaan nomina di samping untuk menunjuk benda juga dipakai sebagai berikut.
1.    Sebagai penggolong benda, yang dipakai bersama numeralia untuk menandai kekhususan nomina tertentu. Contoh: bahu, carik, kecap, pucuk.
2.    Nomina tempat dan arah, seperti kanan, kiri, barat, selatan.
3.    Tiruan bunyi, seperti aum, deram, deru, krang kring.
4.    Makian, seperti monyet, anjing, bangsat.
5.    Sapaan, dibagi atas enam:
a.    nama diri, seperti Mari ke sini, Mey.
b.    nomina kekerabatan: Kak, kok baru pulang?
c.    gelar dan pangkat: Selamat pagi, Prof.
d.   kata pelaku yang berbentuk pe + verb: Pendengar yang terhormat.
e.    bentuk nomina + -ku: oh Tuhanku, ampuni dosa-dosa hamba.
f.     nomina lain: Ini jaket Tuan.
6.    Kuantita, seperti
Bidang , cekak , gelas, hasta ,langkah pikul, bongkah, depa, goni,  ikat, onggok puntung
Canting, dulang,  guci, kepal,papan, tusuk
7.    Ukuran, seperti gram, kilo, ons, sentimeter, kilogram, inci.
8.    Petunjuk waktu, seperti kemarin, lusa, besok, petang, malam, zaman.
9.    Hipostatis, yaitu kata berkelas apa saja yang “diangkat” dari wacana dan dibicarakan dalam metabahasa, misalnya kata berat dalam kalimat “berat terdiri dari lima fonem, dan maknanya berlawanan dengan ringan”.
Proses nominalisasi ialah proses pembentukan nomina yang berasal dari morfem atau kelas kata yang lain. Proses ini dapat terjadi dengan:
1.    Afiksasi
Berdasarkan pada kemungkinan kombinasinya, nomina turunan dapat dibagi atas bentuk yang beafiks dengan:
a.    ke-, pe-, dan per-, contoh: pembicara, pelaut, keamanan, pertapa
b.    an-, contoh: sayuran, manisan
c.    ke-an, pe-an, dan per-an, contoh: pemeriksaan, penghargaan, pertanyaan
2.    Proses nominalisasi dengan si dan sang, contoh: si manis, si kecil, sang dewi.
3.    Proses nominalisasi dengan yang, dengan menambahkan yang di depan dasar kita diperoleh bentuk nomina seperti: yang lari, yang cantik.
D.  PRONOMINA
Pronomina adalah kategori yang berfungsi untuk menggantikan nomina, yang digantikan itu disebut anteseden.
Subkategorisasi, pronominal
1.    Dilihat dari hubungannya dengan nomina, yaitu ada atau tidaknya anteseden dalam wacana. Berdasarkan hal itu, dibagi lagi menjadi:
a.    Pronomina Intertekstual
Bila enteseden terdapat sebelum pronomina, itu dikatakan anaforis, sedangkan  bila enteseden muncul sesudah pronomina, hal itu disebut kataforis.
Contoh anaforis: Pak Arif sepupu Bapak. Rumahnya dekat.
ò
Antaseden
Bersifat kataforis:
Dengan gayanya yang berapi-api itu, Soekarno berhasil menarik massa
ò
Antaseden
(Nya yang bersifat kataforis ini hanya bersifat intrakalimat).
b.    Pronomina ekstratekstual, yang menggantikan nomina yang terdapat di luar wacana, bersifat deiktis.
Contoh: Itu yang kukatakan.
2.    Dilihat dari jelas atau tidaknya referennya
a.    Pronomina Taktrif
Pronomina taktrif yaitu menggantikan nomina yang referennya jelas. Pronomina ini terbatas pada pronomina persona.
§  Pronomina persona I: saya, aku, kami, kita
§  Pronomina II: kamu, kalian
§  Pronomina III: dia, mereka
§  Pronomina tak takrif, yaitu pronomina yang tidak menunjuk pada orang atau benda tertentu. Contoh: seseorang, barang siapa.
b.   Pemakaian Pronomina
1)   Dalam ragam nonstandar jumlah pronomina lebih banyak daripada yang terdaftar tersebut, karena pemakaian nonstandar tergantung dari daerah pemakaiannya.
2)   Dalam bahasa kuna juga terdapat pronomina, seperti baginda.
3)   Semua pronomina tersebut hanya dapat mengganti nomina orang, nama orang, atau hal lain yang dipersonifikasikan.
Alisjahbana menulis beberapa buku.
Mereka tebal-tebal.
E.  NUMERALIA
Numeralia adalah kategori yang dapat 1) mendamping nomina dalam konstruksi sintaksis, 2) mempunyai potensi untuk mendampingi numeralia lain, 3) tidak dapat bergabung dengan tidak atau sangat.
Subkategorisasi
1.    Numeralia Takrif,
Numeralia takrif yaitu numeralia yang menyatakan jumlah yang tentu. Golongan ini terbagi atas:
a)    Numeralia utama (kardinal)
b)   Bilangan penuh, yaitu numeralia utama yang menyatakan jumlah tertentu. Dapat berdiri tanpa bantuan kata lain. Contoh: satu, tiga. Numeralia utama dapat dihubungkan langsung dengan satuan waktu, harga uang, ukuran, panjang, dan sebagainya.
c)    Bilangan pecahan, yaitu numeralia yang terdiri atas pembilang dan penyebut yang dibubuhi dengan partikel per- misalnya: dua pertiga, limaperenam.
d)   Bilangan gugus, seperti likur: bilangan antara 20 dan 30, misalnya selikur: 21, dua likur: 23.
2.    Numeralia Tingkat
Adalah numeralia takrif yang melambangkan urutan dalam jumlah dan berstruktur ke + Num. Contoh: Catatan ketiga sudah diperbaiki.
3.    Numeralia Kolektif
Adalah numeralia takrif yang berstruktur ke + Num, ber- + N, ber- + NR, ber- + Num R atau Num + -an.
Contoh: Ribuan kaum buruh melakukan demonstrasi.
4.    Numeralia Tak Takrif
Numeralia tak takrif adalah numeralia yang menyatakan jumlah yang tak tentu. Misalnya berapa, sekalian, semua, segenap.
F.   ADVERBIA
Adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi ajektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaksis. Adverbia tidak boleh dikacaukan dengan keterangan, karena adverbia merupakan konsep kategori, sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi. Bentuk adverbia:
1.    Adverbia dasar bebas, contoh: alangkah, agak, akan, belum, bisa.
2.    Adverbia turunan, yang terbagi atas:
a.    Adverbia turunan yang tidak berpindah kelas terdiri dari:
1)   Adverbia bereduplikasi, seperti jangan-jangan, lagi-lagi
2)   Adverbia gabunga, misalnya tidak boleh tidak
b.    Adverbia turunan yang berasal dari pelbagai kelas:
1)   Adverbia berafiks, misalnya terlampau, sekali
2)   Adverbia dari kategori lain karena reduplikasi, misalnya akhir-akhir, sendiri-sendiri
3)   Adverbia de-ajektiva, misalnya awas-awas, benar-benar
4)   Adverbia denumeralia, misalnya dua-dua
5)   Adverbia deverbal, kira-kira, tahu-tahu
6)   Adverbia yang terjadi dari gabungan kategori lain dan pronomina, misalnya rasanya, rupanya
7)   Adverbia deverbal gabungan, misalnya ingin benar, tidak terkatakn lagi
8)   Adverbia de ajektival gabungan, misalnya tidak lebih, kerap kali.
9)   Gabunga proses, misalnya : se- +A +-nya: sebaiknya
Subkategorisasi adverbial dibagi dua, yaitu:
1)   adverbia intraklausal yang berkontruksi dengan verba, ajektiva, numeralia, atau adverba lainnya, contoh:  masih, sudah, sungguh,
2)   adverbia ekstraklausal, secara sintaksis mempunyai kemungkinan untuk berpindah-pindah posisi dan secara semantis mengungkapkan prihal atau tingkat proposisi secara keseluruhan, contoh: bukan, justru, mungkin.
Pemakaian Adverbia dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menerangkan:
1)   Aspek, yaitu apakah suatu pekerjaan, peristiwa, keadaan, atau sifat dapat berlangsung (duratif), sudah selesai berlangsung (perfektif), belum selesai (imperfek), atau mulai berlangsung (inkoatif).
2)   Modalitas, menerangkan sikap atau suasana pembicara yang menyangkut pembicaraan, peristiwa, keadaan, atau sifat.
3)   Kuantitas, yaitu menerangkan frekuensi atau jumlah terjadinya suatu peristiwa, keadaan, dan sifat.
4)   Kualitas, menerangkan sifat atau nilai suatu perbuatan, peristiwa, keadaan, atau sifat.
G. INTEROGATIVA
Interogativa adalah kategori dalam kalimat interogatif yang berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh pembicara atau mengukuhkan apa yang telah diketahui pembicara. Apa yang ingin diketahui dan apa yang dikukuhkan itu disebut antesenden (ada di luar wacana) dan karena baru akan diketahui kemudian, interogativa bersifat kataforis.
§  Interogativa dasar: apa, bila, bukan, kapan, mana, masa.
§  Interogativa turunan: apabila, apaan, apa-apaan, bagaimana, bagaimanakah, berapa, betapa, bilamana, bilakah, bukankah, dengan apa, di mana, ke mana, manakah, kenapa, mengapa, ngapain, siapa, yang mana, masakan.
§  Interogativa terikat: kah dan tah.
Jenis dan Pemakainnya
a.    apa, digunakan untuk:
1)   menanyakan nomina bukan manusia, misal:
Apa yang menyebabkan kau tidak menerimaku?
Apa yang dapat kulakukan untukmu?
2)   menanyakan proposisi yang jawabannya mungkin berlawanan, misal:
Apa emailku sudah kau baca? (Jawaban bisa sudah atau belum).
3)   mengukuhkan apa yang telah diketahui pembicara, misal: Apa benar seperti itu?
4)   dalam kalimat retoris, misal: Apa pantas seorang anak pejabat mencuri?
b.    bila, digunakan untuk menanyakan waktu, misal: Bila kekasihku datang?
c.    kah, digunakan untuk:
1)   mengukuhkan bagian kalimat yang diikuti oleh kah, misal:
Mungkinkah kau jadi milikku?
2)   menanyakan pilihan di antara bagian-bagian kalimat yang didahului oleh kah, misal: Berlari atau berenangkah temanmu itu?
3)   dalam ragam standar yang sangat resmidigunakan untukmelengkapi interogativa apa, mana, bagaimana, beberapa, di mana, mengapa, siapa, misal:
Siapakah yang akan menjadi teman hidupku?
d.    kapan, digunakan untuk menanyakan waktu, misal: Kapan kau akan menikahiku?
e.    mana, digunakan untuk
1)   menanyakan salah seorang atau salah satu benda atau hal dari suatu kelompok atau kumpulan, misal: Wanita mana yang akan kau pilih?
2)   Menanyakan pilihan, misal: Dia atau diriku?
f.     tah, digunakan dalam bahasa arkais untuk bertanya kepada diri sendiri, misal:
Apatah dayaku dengan ketidaksempurnaanku?
g.    apabila, digunakan dalam bahasa yang agak arkais untuk menanyakan waktu, misal: Apabila dia melamarku?
h.   apakala, digunakan dalam bahasa yang arkais untuk waktu, sama dengan apabila.
i.      apaan, digunakan dalam ragam non-standar seperti halnya dengan apa; kadang-kadang dengan nada yang meremehkan, misal: Makanan apaan itu?
j.      apa-apaan, digunakan dalam ragam non-standar untuk menanyakan tindakan, tanpa mengharap jawaban, misal: Apa-apaan kau ini?
k.    bagaimana, digunakan untuk:
1)   menanyakan cara perbuatan, misal: Bagaimana caranya kau meyakinkanku?
2)   menanyakan akibat suatu tindakan, misal: Bagaimana kalau dia tidak datang?
3)   meminta kesempatan dari lawan bicara (diikuti kata kalau, misal:
Bagaimana kalau bulan madu kita ke Bali?
4)   menanyakan kualifikasi atau evaluasi atas suatu gagasan, misal:
Bagaimana menurutmu?
l.      berapa, digunakan untuk menanyakan bilangan yang mewakili jumlah, ukuran, takaran, nilai, harga, satuan, waktu, misal:
Berapa harga beras per kilo?
Berapa orang yang hadir dalam acara ini?
Berapa panjang jembatan yang baru di bangun itu?
m. betapa, digunakan dalam bahasa yang arkais, seperti halnya bagaimana, misal:
Betapa bicaramu?
n.   bilamana, digunakan dalam ragam sastra untuk menanyakan waktu, misal:
Bilamana Indonesia merdeka?
o.    bukan, digunakan sesudah suatu pernyataan untuk mengukuhkan proposisi dalam pernytaan itu, misal: Engkau jadi pergi, bukan?
p.    bukankah, digunakan dalam awal kalimat untuk mengukuhkan proposisi, misal:
Bukankah engkau seorang dosen?
q.    di mana, digunakan untuk menerangkan tempat, misal: Di mana rumah barumu?
r.kenapa, digunakan untuk:
1)   dalam ragam non-standar untuk menanyakan sebab atau alasan (sama dengan mengapa), misal: Kenapa ia rela melakukan itu padaku?
2)   dalam ragam non-standar untuk menanyakan keadaan, misal: Kenapa rambutmu?
s.     mengapa, digunakan untuk menanyakan sebab, alasan, atau perbuatan, misal:
Mengapa hari ini kamu terlihat aneh?
t.      ngapain, digunakan dalam bahasa non-standar untuk menanyakan sebab atau alasan, misal: Ngapain kamu di sini?
u.   siapa, digunakan untuk:
1)   menanyakan nomina, insane, misal: Siapa dosen berbaju ungu itu?
2)   menanyakan nama orang, misal: Siapa nama ayah dan ibumu?
v.    yang mana, digunakan untuk menanyakan pilihan, misal:
Yang mana hendak engkau pilih?
w.  masakan/masa, digunakan untuk menyatakan ketidakpercyaan dan sifatnya retoris, misal: Katanya dia sudah pergi. Masa?
*Kata apa dalam kalimat tidak tahu aku apa yang mereka cari bukan merupakan interogativa, tetapi pronominal.
*Kah tidak dipakai untuk melengkapi kata tanya yang dipakai dalam ragam non-standar.
H.  DEMONSTRATIVA
Demonstrativa adalah kategori yang berfungsi untuk menunjukkan sesuatu (antesenden) di dalam maupun di luar wacana. Dari sudut bentuk dapat dibedakan berikut ini.
1.    Demonstrativa dasar (itu dan ini)
2.    Demonstrativa turunan (berikut, sekian)
3.    Demonstrativa gabungan (di sini, di situ, di sana, ini itu, sana sini)
Berdasarkan ada tidaknya antesenden dalam wacana demonstrativa dibagi:
1.    Demonstrativa Intratekstual (Endoforis)
Demonstrativa ini menunjukkan sesuatu yang terdapat dalam dalam wacana dan bersifat ekstrakalimat. Demonstrativa ekstrakalimat bersifat anaforis (itu, begitu, demikian, sekian, sebegitu, sedemikian) dan kataforis (begini, berikut, sebagai berikut).
2.    Demonstrativa Ekstratekstual (Eksoforis atau deiktis)
Demonstrativa ini menujukkan sesuatu yang ada di luar bahasa, dan dapat dibagi atas jauh dekatnya antesenden dari pembicara, yaitu:
proksimal (dekat)                                sini
semi-proksimal (agak dekat)            situ
distal (jauh)                                          sana
*Jika demonstrativa-demonstrativa di atas digabungkan dengan preposisi, maka akan terjadi gabungan kedua kelas itu dengan klasifikasi:
‘diam’                    ‘bergerak’
proksimal                              di sini                      ke sini                     dari sani
semi-proksimal    di situ                     ke situ                    dari situ
distal                                      di sana                   ke sana                  dari sana
*Gabungan ke sini bermakna sama dengan ke mari (gabungan preposisi dan interjeksi). Demonstrativa seperti halnya dengan nomina, pronominal, dan interogativa, dapat berdiri sendiri ataupun dapat menjadi modifikator atau atribut dalam frasa, misalnya:
Ini cincinnya.
Cincin ini imitasi. 
I.     ARTIKULA
Artikula dalam bahasa Indonesia adalah kategori yang mendampingi nomina dasar misalnya si kancil, sang matahari, para pelajar, nomina deverbal (si terdakwa, si tertuduh), pronominal (si dia, sang aku), dan verba pasif (kaum tertindas, si tertindas). Artikula berupa partikel, jadi tidak berafiksasi.
Berdasarkan ciri semantis gramatikal artikula dibedakan sebagai berikut.
1.    Artikula yang bertugas untuk mengkhususkan nomina singularis, jadi bermakna spesifikasi. Artikula tersebut adalah:
si
dapat bergabung dengan nomina singularis, baik nomina persona, satwa maupun benda ajektiva, pronominal, dan menyatakan ejekan, keakraban, dan personifikasi.
sang
digunakan untuk meninggikan harkat kata yang didampinginya, biasanya bergabung dengan nomina, baik persona, satwa, maupun benda yang menyatakanpersonifikasi misalnya Sang Saka, Sang Merah Putih, sang juga menyatakan maksud mengejek atau menghormati, misalnya sang suami, sang guru, sang juara, dll.
sri
dipakai untuk mengkhususkan orang yang sangat dihormati, misalnya Sri Baginda, Sri Ratu, Sri Paus.
hang dan dang
dipakai untuk menerangkan nama pria dan wanita dalam sastra lama.
2.    Artikula yang bertugas untuk mengkhususkan suatu kelompok, yaitu:
para
digunakan untuk mengkhususkan kelompok, misalnya para guru, para mahasiswa, para ibu, para hadirin.
kaum
digunakan untuk mengkhususkan kelompok yang berideologi sama, misalnya kaum buruh, kaum teroris, kaum wanita, kaum duafa.
umat
digunakan untuk mengkhususkan kelompok yang berlatar belakang agama yang sama, misalnya: umat Islam, umat Kristiani, umat manusia.
*Dalam karangan inidibedakan antara nomina deverbal dengan verba pasif. Dalam bentuk si terdakwa prosesnya merupakan deverbalisasi, baru digabung dengan artikel si, sedangkan dalam bentuk kaum tertindas perubahan kelasnya tidak serapih itu. Yang terjadi bukan deverbalisasi tertindas, melainkan perubahan kelas yang terjadi dalam gabungan si + tertindas.
*Gabungan antara artikula dengan verba pasif membentuk nomina.
*Kaum dan umat merupakan artikula denominal. Kaum Muslimin dan umat Islam merupakan frasa nominal (gabungan nomina+nomina), tapi kemudian kata kaum dan umat dipisahkan dan bergabung dengan kata-kata lain sehingga menjadi artikula.
J.    PREPOSISI
Preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina) sehingga terbentuk frasa eksosentris direktif. Ada tiga jenis preposisi, yaitu sebagai berikut.
1.    Preposisi dasar (tidak dapat mengalami proses morfologis).
2.    Preposisi turunan, terbagi atas:
a.       Gabungan preposisi dan preposisi
b.      Gabungan preposisi dan non-preposisi.
Bentuk-bentuk preposisi yang hampir serupa dengan gabungan preposisi + preposisi dapat berpola:
preposisi + nomina lokal +
antara
atas
balik
bawah
di                                             belakang
ke                            +              dalam                    +              nomina atau frasa nomina lain.
dari                                         dekat
depan
hadapan
luar
muka
Contoh: di atas gedung, di muka bumi, di tengah-tengah kota
Ada gabungan preposisi + preposisi yang membentuk pola frasa:
Preposisi1 + {} +preposisi2 + {}
Contoh:
Ia belanja dari toko ke toko.
Sejak dulu hinggasekarang aku masih menunggu.
Dari Semarang sampaiJakarta ia tempuh demi orangtaunya.
Antara saya dengan dia hanya sahabat dekat saja.
3.    Preposisi yang berasal dari kategori lain (misalnya pada dan tanpa) termasuk beberapa preposisi yang berasal dari kelas lain yang berafiks se- (selain, semenjak, sepanjang, sesuai, dsb).
Daftar Preposisi
akanakibatantarantaraantara … denganbagai
‘bagaikan
bagi
bak
berbeda dengan
berhadapan
berhadapan dengan
berhubung
berhubung dengan
berkat
berkenaan dengan
berlainan dengan
berlawanan dengan
bersamaan dengan
bersangkutan dengan
bertentangan dengan
bertolak dari
buat (non standar)
dalam
dari
dari antara
daripada
dari … ke
dari … sampai
demi
dengan
di
gunaguruhinggakarenakekecuali
kepada
ketimbang
kurang
laksana
lantaran
lewat
melalui
mengenai
mengingat
mengingat akan
menjelang
menuju
menuju ke
menurut
menyangkut
oleh
oleh karena
oleh sebab
pada
pasal
per
peri
perihal
perkara
sama (non standard)
sampaisampai dengansebagaisebagaimanasecarasedari
seiring
sejajar
sejak
sejalan
sekeliling
sekitar
selain
selain daripada
selama
selaras
semacam
semenjak
seperti
sepanjang
sesuai dengan
tanpa
tentang
terhadap
tinimbang
untuk
waktu
Preposisi
Dasar
Turunan- Gabungan
Turunan Pindahan Kelas
Berafiks
Denominal
Deverbal
Dekonjungsional
bakdaridemidengandioleh
ke
sejak
seperti
daripadakepadaoleh karenaoleh sebabsejak dariselain dari
selain daripada
sejak … hingga
dari … ke
sejak … sampai
antara … dengan
bagaikanlantaransebagaisecarasekelilingsekitar
selama
semacam
sepanjang
seingat
melaluimengenaimengingatmenjelangmenimbangmenuju
menurut
terhadap
tinimbang
ketimbang
berhubung
menyangkut
seiring
sebagaimanaselainsemenjak
Preposisi dalam Pemakaian
1.      Parasanya bak bidadari yang turun dari langit.
2.      Demi sesuap nasi ia meninggalkan anak dan istri ke negeri orang.
3.      Selama kekasihnya pergi, ia selalu sendiri.
4.      Para buruh demo karena gajinya tidak dibayarkan.
5.      Menjelang senja dikayuhnya perahu ke laut.
6.      Mengingat usia yang sudah tua, Ani tidak mau menunggu lama lagi untuk menikah.
7.      Sebelum tidur diceritakannya peri persahabatan antara kura-kura dank era.
8.      Akibat kemarau panjang banyak daerah kekeringan.
9.      Sebenarnya antara aku dan dia saling mencintai, tapi sama-sama tidak mau mengakui.
10.  Tanpa kehadirannya, aku tidak akan berangkat.
K. KONJUNGSI
Konjungsi adalah kategori yang berfungsi untuk meluaskan satuan lain dalam kontruksi hipotaktis, dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam kontruksi. Konjungsi menghubungkan bagian-bagian ujaran yang setataran maupun yang tidak setataran.
Contoh:
(a)   Dia marah karena saya.
(b)   Dia marah karena saya meninggalkannya.
(c)    Adik saya dua orang yaitu Adit dan Byan.
Dalam kalimat (a) karena merupakan preposisi, karena diikuti oleh satuan kata sehingga merupakan konstruksi eksosentris, sedangkan dalam kalimat (b) karena merupakan konjungsi, karena menghubungkan klausa dengan klausa. Dalam kalimat (c) konjungsi yaitu berperan sebagai penghubung klausa dan sekaligus berperan sebagai penunjuk anaforis. Contoh lain adalah begitu dalam kalimat Begitu datang ia langsung menangis.
Di samping itu, terdapat beberapa konjungsi yang merupakan gabungan se- + verba, misalnya sedatang, sehabis, selepas, selagi, dan sebagainya. Konjungsi semacam ini mempunyai fungsi dan makna gabungan konjungsi dan verba.
Menurut posisinya konjungsi dibagi menjadi berikut ini.
1.    Konjungsi Intra-kalimat, yaitu konjungsi yang menghubungkan satuan-satuan kata dengan kata, frasa dengan frasa, atau klausa dengan klausa. Konjungsi itu yaitu:
agaragar supayaakan tetapialih-alihandaikataapabila
asal
asalkan
atau
bahwa
bahwasanya
baik … ataupun
baik … baik
baik … maupun
begitu
begitu … begitu
berhubung
bertambah … bertambah
biar
biarpun
biar … asal
bilamana
boro-boro (non standar)
dan
dan lagi
daripadademidi manadi mana … di situdi sampingentah-entah
gara-gara
hanya
hingga
jangan-jangan
jangankan
jangankan … selang
jika
jikalau
jika kiranya
kalau
kalau-kalau
kalaupun
karena
kecuali
kemudian
kendati
kendatipun
ketika
kian … kian
lagi
lalu
lamunlantaranlantaslebih-lebihmakamakin-makin
manakala
manalagi
melainkan
mentang-mentang
meski
meskipun
misalnya
namun
nan
oleh karena
padahal
sambil
sampai
sampai-sampai
seakan-akan
seandainya
sebab
sedang
sedangkan
sehingga
sekalipun
sekiranyasembarisementaraseolah-olahserayaserta
sesungguhnya
setelah sudah … maka
supaya
tapi
tatkala
tempat
tengah
tetapi
tiap kali
umpamanya
waktu
walau
walaupun
yang (relatif:non -standar)
ya…ya
yaitu
yakni
2.    Konjungsi Ektra-kalimat, yang terbagi lagi atas:
(a)   Konjungsi intratekstual, yaitu menghubungkan kalimat dengan kalimat, atau paragraph dengan paragraph, yaitu:
akan tetapiapalagibahkanbiarpun demikianbiarpun begitudan
dan lagi
dalam pada itu
di samping itu
itu pun
kecualikemudian lagi pulalebih-lebih lagimakamaka itumalah
malahan
mana lagi
manapula
meskipun begitu
meskipun demikianoleh karena itusebaliknyasekalipun begitusekalipun demikiansebelumnya
selain itu
selanjutnya
sementara itu
sesudah itu
sesungguhnyasetelah itusungguhpun demikiansungguhpun begitutambahan lagitambahan pula
walaupun demikian
(b)   Konjungsi ektratekstual, yang menghubungkan dunia di luar bahasa dengan wacana, yaitu:
adapunalkisaharkian
begituhattahubaya-hubaya
makamaka itumengenai
sebermulasyahdanomong-omong (non-standar)teringatnya
Tugas konjungsi sesuai dengan makna satuan-satuan yang dihubungkan oleh konjungsi dibedakan sebagai berikut.
1.    Penambahan, misalnya: dan, selain, tambahan lagi, bahkan.
2.    Urutan, misalnya: lalu, lantas, kemudian.
3.    Pilihan, misalnya: atau, entah … entah.
4.    Gabungan, misalnya: baik … maupun.
5.    Perlawanan, misalnya: tetapi, hanya, sebaliknya.
6.    Temporal, misalnya: ketika, setelah itu.
7.    Perbandingan, misalnya: sebagaimana, seolah-olah.
8.    Sebab, misalnya: karena, lantaran.
9.    Akibat, misalnya: sehingga, sampai-sampai.
10.    Syarat, misalnya: jikalau, asalkan.
11.    Tak bersyarat, misalnya: meskipun, biarpun.
12.    Pengandaian, misalnya: andai kata, sekiranya.
13.    Harapan, misalnya: andai kata, sekiranya, seumpama.
14.    Perluasan, misalnya: yang, di mana, tempat.
15.    Pengantar obyek, misalnya: bahwa, yang.
16.    Cara, misalnya: sambil, seraya.
17.    Perkecualian, misalnya: kecuali, selain.
18.    Pengantar wacana, misalnya: sebermula, adapun, maka.
*Konstruksi hipotaktis adalah frasa gabungan atau klausa gabungan yang secara lahiriah mempergunakan penghubung, sedangkan yang tidak menggunakan penghubung disebut konstruksi parataktis.
Pemakaian konjungsi, misalnya:
1.    Kamu harus rajin belajar agar dapat lulus ujian.
2.    Jangan berunding karenaketakutan, akan tetapi jangan takut untuk berunding.
3.    Bertambah lama dipandang, bertambah cantik saja parasnya.
4.    Dia atau diriku yang kau pilih?
5.    Andaikata aku orang kaya, aku akan keliling dunia bersamamu.
6.    Kau boleh pergi asal jangan pulang terlalu malam.
7.    Baik mahal ataupun murah tidak akan kubeli.
8.    Berhubung sudah terlambat maka saya terburu-buru berangkat ke kampus.
9.    Jangankan bunga, emas pun tidak akan kuterima darimu.
10.    Kendatipun engkau berada jauh, aku akan tetap merindukanmu.
L.  KATEGORI FATIS
Kategori fatis adalah kategori yang bertugas memulai, mempertahankan, atau mengukuhkan komunikasi antara pembicara dan lawan bicara. Kelas kata ini terdapat dalam dialog atau wawancara bersambutan, yaitu kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pembicara dan kawan bicara. Sebagian besar kategori fatis merupakan ciri ragam bahasa lisan (non-standar) sehingga kebanyakan kalimat-kalimat non-standar banyak mengandung unsur-unsur daerah atau dialek regional.
Bentuk-bentuk fatis misalnya di awal kalimat Kok kamu melamun?, di tengah kalimat, misalnya Dia kok bisa ya menulis puisi seindah ini?, dan di akhir kalimat, misalnya Aku juga kok! Kategori fatis mempunyai wujud bentuk bebas, misalnya kok, deh, atau selamat, dan wujud bentuk terikat, misalnya –lah atau pun.
Bentuk dan Jenis Kategori Fatis, dapat diuraikan sebagai berikut.
1.    Partikel dan Kata Fatis
a.    ah, menekankan rasa penolakan atau rasa acuh tak acuh, misalnya:
“Ayo ah kita pergi!”, “Ah yang benar saja kau!”
b.    ayo, menekankan ajakan, misalnya: “Ayo kita pergi!”, “Kita pergi yo!”
Ayo mempunyai variasi yo bila diletakkan di akhir kalimat. Ayo juga bervariasi dengan ayuk dan ayuh.
c.    deh, digunakan untuk menekankan:
1)   pemaksaan dengan membujuk, misalnya: “Makan deh, jangan malu-malu!”
2)   pemberian persetujuan, misalnya: “Boleh deh!”
3)   pemberian garapan, misalnya: “Makanan dia enak deh!”
4)   sekadar penekanan, misalnya: “Jadi benci deh sama dia!”
d.   dong, digunakan untuk:
1)   Menghaluskan perintah, misalnya: “Bagi dong kuenya!”
2)   Menekankan kesalahan lawan bicara, misalnya: “Ya jelas dong!”
e.    ding, menekankan pengakuan kesalahan pembicara, misalnya: “Eh, iya ding salah!”
f.     halo, digunakan untuk:
1)   Memulai dan mengukuhkan pembicaraan di telepon, misalnya: “Halo?”
2)   Menyalami kawan bicara yang dianggap akrab, misalnya: “Halo, lama tak jumpa?”
g.    kan, apabila terletak pada akhir kalimat atau awal kalimat, maka kan merupakan kependekan dari kata bukan atau bukankah, dan tugasnya ialah menekankan pembuktian, misalnya: “Kan dia sudah tahu!”, “Bisa saja kan?”
Apabila kan terletak di tengah kalimat, maka kan juga bersifat menekankan pembuktian atau bantahan, misalnya: “Tadi kan sudah dikasih tahu!”
h.    kek, mempunyai tugas:
1)   menekankan pemerincian, misalnya: “Elu kek, gue kek, sama saja.”
2)   menekankan perintah, misalnya: “Cepetan kek, kenapa sih?”
3)   menggantikan kata saja, misalnya: “Elu kek yang pergi!”
i.      kok, menekankan alasan dan pengingkaran, misalnya: “Saya cuma ketiduran sebentar kok!”, “Kok begitu sih?”, “Dia kok yang ambil bukuku!”
kok dapat juga bertugas sebagai pengganti kata tanya mengapa atau kenapa bila diletakkan di awal kalimat, misalnya: “Kok sakit-sakit pergi juga?”
j.      –lah, menekankan kalimat imperatif, dan penguat sebutan dalam kalimat, misalnya:
“Tutuplah pintu kamar itu!”,  “Biar sayalah yang pergi.”
k.    lho, bila terletak di awal kalimat bersifat seperti interjeksi yang menyatakan kekagetan, misalnya: “Lho, kok jadi gini sih?”
Bila terletak di tengah atau di akhir kalimat, maka lho bertugas menekankan kepastian, misalnya: “Saya juga mau lho.”
l.      mari, menekankan ajakan, misalnya: “Mari makan.”
m.  nah, selalu terletak pada awal kalimat dan bertugas untuk minta supaya kawan bicara mengalihkan perhatian ke hal lain, misalnya: “Nah, sekarang bacalah cerpen ini!”
n.    pun, selalu terletak pada ujung konstituen pertama dan bertugas menonjolkan bagian tersebut, misalnya: “Membaca pun ia tidak bisa.”
o.    selamat, diucapkan kepada kawan bicara yang mendapatkan atau mengalami sesuatu yang baik, misalnya: “Selamat ya, tulisanmu dimuat lagi di koran.”
p.    sih, memiliki tugas:
1)   menggantikan tugas –tah dan –kah, misalnya: “Apa sih maunya itu orang?”
2)   sebagai makna ‘memang’ atau ‘sebenarnya’, misalnya: “Bagus sih bagus, tapi harganya selangit!”
3)   menekankan alasan, misalnya: “Abis dia nakal sih!”
q.    toh, bertugas menguatkan maksud, ada kalanya memiliki arti yang sama dengan tetapi, misalnya: “Saya toh tidak merasa bersalah.”
r.     ya, bertugas:
1)   mengukuhkan atau membenarkan apa yang ditanyakan kawan bicara, bila dipakai pada awal ujaran, misalnya: “Ya aku mencintaimu.”
2)   minta persetujuan atau pendapat kawan bicara, bila dipakai pada akhir ujaran, misalnya: ”Jangan pergi ya?”, “Ke mana ya?”
s.     yah, digunakan pada awal atau tengah-tengah ujaran, tapi tidak pernah di akhir ujaran untuk mengungkapkan keragu-raguan atau ketidakpastian terhadap apa yang diungkapkan oleh kawan bicara atau yang tersebut dalam kalimat sebelumnya, bila dipakai pada awal ujaran: atau keragu-raguan atau ketidakpastian atas isi konstituen ujaran yang mendahuluinya, bila dipakai di tengah ujaran, misalnya:
“Yah, apa aku bisa melakukannya?”
2.    Frase Fatis
a.    frase dengan selamat digunakan untuk memulai dan mengakhiri interaksi antara pembicara dan lawan bicara sesuai dengan keperluan dan situasinya, misalnya:
selamat pagi                         selamat malam    selamat jalan
selamat siang                       selamat tidur                        selamat makan
selamat sore                         selamat jumapa  selamat berulang tahun
b.    terima kasih digunakan setelah pembicara merasa mendapatkan sesuatu dari kawan bicara.
c.    turut berduka cita digunakan sewaktu pembicara menyampaikan bela sungkawa.
d.   assalamu’alaikum digunakan pada waktu pembicara memulai interaksi.
e.    wa’alaikumsalam digunakan untuk membalas kawan bicara yang mengucapkan assalamu’alaikum.
f.     insya Alloh diucapkan oleh pembicara ketika menerima tawaran mengenai sesuatu dari kawan bicara.
Selain frase fatis dalam ragam tulis, ada pula frase fatis ragam lisan, misalnya:
g.    dengan hormat digunakan penulis pada awal surat
h.    hormat saya, salam takzim, wassalam digunakan penulis pada akhir surat.
M.INTERJEKSI
Interjeksi adalah kategori yang bertugas mengungkapkan perasaan pembicara: dan secara sintaksis tidak berhubungan dengan kata-katalain dalam ujaran. Interjeksi bersifat ekstrakalimat dan selalu mendahului ujaran sebagai teriakan yang lepas atau berdiri sendiri.
Interjeksi dapat ditemui dalam:
1.    Bentuk dasar, yaitu: aduh, aduhai, ah, ahoi, ai, amboi, asyoi, ayo, bah, cih, cis, eh, hai, idih, ih, lho, oh, nak, sip, wah, wahai, yaaa.
2.    Bentuk tururnan, biasanya berasal dari kata-kata biasa, atau pengalan kalimat Arab, contoh: alhamdulillah, astaga, brengsek, buset, dubilah, duilah, insya Alloh, masyallah, syukur, halo, innalillahi, yahud.
Jenis interjeksi dapat diuraikan sebagai berikut.
1.    Interjeksi seruan atau panggilan minta perhatian: ahoi, ayo, eh, halo, hai, he, sst, wahai.
2.    Interjeksi keheranan atau kekaguman: aduhai, ai, amboi, astaga, asyoi, hm, wah, yahud.
3.    Interjeksi kesakitan: aduh.
4.    Interjeksi kesedihan: aduh.
5.    Interjeksi kekecewaan dan sesal: ah, brengsek, buset, wah, yaa.
6.    Interjeksi kekagetan: lho, masyaallah, astaghfirullah.
7.    Interjeksi kelegaan: Alhamdulillah, nah, syukur.
8.    Interjeksi kejijikan: bah, cih, cis, hii, idih, ih.
N.  PERTINDIHAN KELAS
Kategori kata sebagaimana disajikan di atas belum dapat dianggap selesai kalau belum memecahkan persoalan yang terdapat dalam contoh berikut:
1.    Kucing saya mati kemarin.
2.    Mati itu bukan akhir segalanya.
3.    Ini harga mati.
Dalam menghadapi kenyataan tersebut dapat mengambil tiga jalan; yang pertama, menggolongkan contoh pertama atas tiga kategori, yaitu:
Mati sebagai verba intransitif
Mati2 sebagai nomina
Mati3­ sebagai verba intransitif (atributif)
Dasarnya ialah pendirian bahwa fungsi gramatikal tidak dapat dipergunakan sebagai ciri kelas kata, jadi subyek tidak bisa dipakai sebagai ciri nomina atau prediakt sebagai ciri verba.

Penulis : Andri_Setyawan ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel kelas kata dalam bahasa Indonesia ini dipublish oleh Andri_Setyawan pada hari Jumat, 05 April 2013. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan kelas kata dalam bahasa Indonesia
 
Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar